MAGETAN, SUARAMETROINDONESIA – SMK YKP Magetan akhirnya angkat bicara menanggapi kabar yang beredar terkait dugaan penahanan ijazah salah satu lulusan tahun 2025. Pihak sekolah memastikan informasi tersebut tidak benar dan menilai telah terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Saat ditemui di lingkungan sekolah, Eva Selvia selaku wali kelas dari siswa berinisial “MDP” menjelaskan bahwa selama menempuh pendidikan, siswa tersebut masuk dalam kategori istimewa sehingga mendapatkan perhatian lebih dari pihak sekolah.
“Sejak kelas 10 hingga dinyatakan lulus, sekolah secara konsisten berupaya membantu kondisi keluarga siswa,”bebernya saat ditemui, Selasa (3/2/2026).

Menurut Eva, bantuan yang diberikan tidak hanya sebatas akademik, tetapi juga dalam bentuk kebutuhan sehari-hari seperti sembako hingga makanan yang dikumpulkan secara bergiliran oleh para guru. Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian sekolah terhadap latar belakang ekonomi keluarga siswa.
Menanggapi persoalan ijazah, Eva menegaskan tidak pernah ada niat sedikit pun dari sekolah untuk menahan dokumen kelulusan tersebut. Ia mengungkapkan, sebelumnya siswa bersangkutan sempat berkomunikasi dan meminta bantuan untuk memfotokopi ijazah.
“Pihak sekolah tetap menyarankan agar pengambilan dilakukan secara langsung karena diperlukan tanda tangan administrasi sebagai prosedur resmi,”ucapnya
Pernyataan senada disampaikan Sri Wahyuningsih dari bagian kesiswaan. Ia menyebut bahwa di lingkungan SMK YKP Magetan, pembinaan karakter dan masa depan siswa menjadi prioritas utama dibandingkan urusan administrasi semata.
Pihak sekolah, kata dia, memahami kondisi ekonomi wali murid sehingga tidak pernah bermaksud mempersulit proses pengambilan ijazah.
Sri menambahkan, hingga saat ini siswa yang bersangkutan belum datang langsung ke sekolah untuk menyelesaikan proses administrasi.
“Padahal, pihak sekolah membuka kesempatan seluas-luasnya dan siap membantu kapan pun diperlukan,”ungkapnya
Sementara itu, Kepala SMK YKP Magetan, Arif Kurniawan, juga membantah keras isu yang berkembang. Ia menegaskan sekolah justru berkomitmen memberikan dukungan penuh bagi siswa, khususnya mereka yang kurang mampu. Menurutnya, selama masa pendidikan, sebagian besar kebutuhan biaya siswa tersebut telah dibantu oleh sekolah, mulai dari ujian, UKK, hingga kebutuhan penunjang lainnya.
Arif menilai kabar penahanan ijazah maupun anggapan kepala sekolah sulit ditemui merupakan bentuk miskomunikasi.
“Sistem sekolah berjalan terbuka dan setiap siswa yang belum mengambil ijazah dipersilakan datang langsung tanpa ada tuntutan administrasi yang memberatkan,”tegasnya
Dengan klarifikasi ini, pihak SMK YKP Magetan berharap masyarakat dapat memahami situasi sebenarnya serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu sesuai fakta.
(Gun)












