INDRAMAYU,SMI.id | PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Refinery Unit (RU) Balongan kembali memperkuat sinergi dalam mendukung ketahanan energi nasional. Langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama dengan PT Pertamina EP Zona 7 terkait handling loading minyak mentah Jatibarang Crude Oil (JCO) melalui fasilitas Single Point Mooring (SPM) 165.000 DWT milik Kilang Pertamina Balongan.
Penandatanganan kerja sama berlangsung di Ruang Rapat 223 Pertamina EP Klayan, Kota Cirebon, Jumat (7/8/2026). Kesepakatan tersebut ditandatangani Executive General Manager (EGM) PT PPN RU Balongan Yulianto Triwibowo bersama General Manager Pertamina EP Zona 7 Jufrianson Alfredo Sinaga.
Yulianto mengatakan, pemanfaatan bersama fasilitas SPM merupakan bentuk strategi sinergis untuk mengoptimalkan infrastruktur yang dimiliki Pertamina Group. Menurutnya, kolaborasi antarsubholding tersebut diharapkan mampu saling menopang keberlangsungan bisnis sekaligus memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan energi nasional.
“Kerja sama pemanfaatan bersama fasilitas SPM ini adalah strategi yang baik dalam mengoptimalkan infrastruktur perusahaan agar roda bisnis Pertamina Group bisa saling menyokong demi keberlangsungan bisnis masing-masing entitas sekaligus bermanfaat untuk negara terhadap pemenuhan kebutuhan energi nasional,” ujar Yulianto.
Ia menjelaskan, sejak awal beroperasi, Kilang Pertamina Balongan telah mengolah minyak mentah dari Duri dan Minas, Provinsi Riau. Kini, kilang tersebut juga menyerap Jatibarang Crude Oil sebagai salah satu bahan baku produksi bahan bakar minyak (BBM).
“Semoga kerja sama ini berjalan dengan baik dan berdampak pada peningkatan margin perusahaan, serta dapat mengurangi impor Crude Oil,” katanya.
Perkuat Rantai Energi dari Hulu hingga Hilir
Sementara itu, General Manager Pertamina EP Zona 7 Jufrianson Alfredo Sinaga menilai Indonesia memiliki modal penting untuk menghadapi dinamika ekonomi global karena mempunyai ekosistem bisnis energi dari sisi hulu hingga hilir.
Menurutnya, keberadaan Pertamina EP sebagai produsen minyak mentah dan kilang sebagai industri pengolah crude menjadi BBM menjadi kekuatan strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional.
“Indonesia diyakini mampu survive di tengah gejolak ekonomi dunia karena memiliki Pertamina EP yang bertugas memproduksi Crude Oil dan memiliki kilang minyak sebagai industri pengolah Crude menjadi BBM, di mana negara lain banyak yang tidak memiliki kedua bisnis tersebut,” ungkap Jufrianson.
Ia menambahkan, keseimbangan antara produksi minyak mentah dan kapasitas pengolahan di dalam negeri menjadi faktor penting untuk menekan ketergantungan terhadap impor.
“Ini patut kita syukuri karena ada keseimbangan antara kapasitas produksi crude dengan kilang, minimal mengurangi impor dan menjaga ketahanan energi nasional,” jelasnya.
Melalui pemanfaatan fasilitas SPM berkapasitas 165.000 DWT, minyak mentah Jatibarang dapat disalurkan secara lebih optimal menuju kilang yang membutuhkan pasokan, sekaligus mendukung keberlangsungan produksi crude Pertamina EP.
SPM Balongan Jadi Titik Strategis
SPM 165.000 DWT merupakan fasilitas sandar terapung di laut lepas milik Kilang Pertamina Balongan yang berada sekitar 15 hingga 18 kilometer dari daratan. Fasilitas tersebut menjadi salah satu infrastruktur penting dalam mendukung aktivitas bongkar muat minyak mentah dari kapal tanker berukuran besar sebelum dialirkan menuju kilang melalui jaringan pipa bawah laut.
Selain aspek kelancaran operasional, faktor keselamatan dan perlindungan lingkungan menjadi perhatian dalam pemanfaatan fasilitas tersebut. Personel gabungan Kilang Pertamina Balongan secara rutin melakukan patroli laut untuk mengecek serta mengawasi kondisi SPM.

Patroli tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian risiko operasional, termasuk potensi kebocoran maupun pencemaran lingkungan laut.
Sinergi antara Pertamina Patra Niaga RU Balongan dan Pertamina EP Zona 7 ini sekaligus memperlihatkan pentingnya integrasi sektor hulu dan hilir. Optimalisasi infrastruktur yang sudah tersedia diharapkan mampu memperlancar penyaluran minyak mentah domestik, meningkatkan efisiensi bisnis, serta memperkuat fondasi ketahanan energi nasional.
(Gedo)












