KOTA BANDUNG, SMI.id || Fenomena Wedding Organizer (WO) yang sengaja tidak menyandingkan pengantin saat prosesi ijab kabul demi adegan dramatis yang ramai di Jawa Timur, kini menuai tanggapan dari Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kota Bandung melalui Kepala KUA Andir.
Tren tersebut dinilai berpotensi mengganggu efisiensi pelayanan publik, karena prosesi akad yang molor dapat menghambat jadwal penghulu yang harus melayani pasangan lain di lokasi berbeda.
Kepala KUA Kecamatan Andir Kota Bandung, Munir Nurhakim, S.Ag., menyayangkan jika keindahan visual lebih diutamakan daripada substansi akad nikah itu sendiri.
“Akad nikah itu peristiwa hukum, bukan panggung konten. Estetika itu boleh, tapi jangan sampai menggeser prioritas pelayanan,” ujar Munir saat dimintai tanggapan Warpol.id, Senin (13/10).

Menurut Munir, pihaknya menghormati kreativitas pasangan dan WO dalam merancang prosesi agar berkesan. Namun, ia mengingatkan bahwa penghulu adalah petugas pelayanan publik, bukan pengisi acara yang bisa ditahan hingga semua adegan selesai.
Fenomena yang disorot adalah prosesi di mana pengantin wanita sengaja ditempatkan terpisah saat ijab kabul, lalu baru berjalan menuju meja akad setelah akad dinyatakan sah, demi menciptakan dramatic entrance untuk kebutuhan dokumentasi.
“Jeda sepuluh menit itu mungkin terasa singkat bagi satu pasangan, tapi bisa jadi persoalan serius ketika penghulu harus mengejar jadwal akad berikutnya. Kami di APRI Bandung sering mengalami harus pindah lokasi dalam waktu mepet,” jelas Munir.
Ia menambahkan, secara hukum fiqih munakahat, disandingkan atau tidaknya pengantin saat ijab kabul tidak mempengaruhi keabsahan nikah. Sah-sah saja. Namun yang perlu direnungkan adalah konsistensi memaknai kesakralan.
“Kesakralan pernikahan tidak ditentukan oleh posisi duduk pengantin, melainkan oleh makna, tanggung jawab, dan komitmen setelah akad itu sendiri,” tegasnya.
APRI Kota Bandung berharap ada komunikasi yang baik antara calon pengantin, WO, dan pihak KUA sebelum hari-H, agar keindahan prosesi tetap berjalan beriringan dengan ketertiban, efisiensi, dan penghormatan terhadap waktu semua pihak.
“Pernikahan boleh dirancang seindah mungkin, tapi pelayanan publik jangan sampai menjadi korban demi estetika,” pungkasnya.
Team-Aspri
#baladabahmediatersenyum
#kUAandirkotabandung
Sumber : Syahidin-warpol












