INDRAMAYU, SMI.id | Di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan energi nasional yang terus meningkat, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) melalui fungsi Project R dan P (Refinery and Petrochemical) Balongan menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan infrastruktur energi dan kelestarian lingkungan.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Goes to Campus bertema “Inspiring Future Energy Professional and Environmental Champions” yang digelar di Auditorium Universitas Wiralodra, Indramayu, Rabu (10/9/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat peran Project R&P Balongan dalam merencanakan, mengelola, hingga mengeksekusi berbagai proyek infrastruktur kilang guna mendukung kelancaran operasional. Namun, pembangunan dan operasional tersebut juga diiringi perhatian terhadap kelestarian alam, kesehatan masyarakat, serta kondisi lingkungan di sekitar wilayah operasi.
Pjs. General Manager (GM) Project R&P Balongan, Ashabul Kahfi, mengatakan bahwa aktivitas industri energi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan.
Menurutnya, operasional kilang yang menghasilkan emisi karbon perlu diimbangi dengan berbagai langkah berkelanjutan untuk menekan dampak emisi tersebut.
Salah satu langkah nyata yang dilakukan Project R dan P Balongan adalah melalui program rehabilitasi kawasan pesisir dengan penanaman mangrove.
“Seminar ini penting kami lakukan untuk membangun masa depan energi yang berkelanjutan melalui inovasi, kolaborasi, dan kepedulian lingkungan demi terwujudnya Net Zero Emission di Tahun 2060,” ujar Ashabul Kahfi.
Ia menjelaskan, program penanaman mangrove telah dimulai sejak 2023 di Pantai Tiris, Kabupaten Indramayu, dengan menggunakan jenis Rhizophora mucronata.
Program tersebut kemudian diperluas ke sejumlah kawasan pesisir lainnya di Kabupaten Indramayu. Hingga 2026, total bibit mangrove yang telah ditanam Project R&P Balongan mencapai 165 ribu bibit, dengan luas area penanaman sekitar 15 hektare.
Tak berhenti pada kegiatan penanaman, Pertamina juga melakukan pemantauan secara rutin terhadap pertumbuhan mangrove. Dalam prosesnya, masyarakat turut dilibatkan untuk memastikan bibit yang ditanam dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Upaya tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ekologis, mulai dari mengurangi risiko abrasi pantai, memulihkan ekosistem pesisir, hingga menjadi bagian dari langkah mitigasi terhadap dampak perubahan iklim.
Di sisi lain, Ashabul Kahfi menegaskan bahwa fungsi Project R dan P Balongan merupakan bagian dari lini hilir Pertamina yang memiliki tugas strategis dalam pembangunan dan pengembangan infrastruktur kilang minyak serta fasilitas petrokimia.
Sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) telah berhasil diselesaikan dengan lancar, dengan komitmen terhadap aspek keselamatan kerja yang ditunjukkan melalui capaian nihil fatality maupun kecelakaan kerja lainnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Wiralodra, Prof. Dr. Dra. Ipong Dekawati, M.Pd, memberikan apresiasi terhadap langkah Project R dan P Balongan yang membuka wawasan mahasiswa mengenai industri energi sekaligus pentingnya menjaga lingkungan.
Menurutnya, Pertamina tidak hanya memiliki peran penting dalam menopang kebutuhan energi nasional, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan di tengah proses bisnisnya.
“Dari seminar ini, diharapkan kelak mahasiswa bisa menjadi calon profesional di industri energi sekaligus bisa menjadi pahlawan lingkungan di masa depan,” ungkap Prof. Ipong Dekawati.
Seminar tersebut juga menghadirkan Dr. Rahmat Abbas, Koordinator Ahli Pengelolaan Lingkungan/Mangrove Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, yang memaparkan materi mengenai perubahan iklim dan bencana.

Rahmat menilai program penanaman mangrove yang dilakukan Pertamina memiliki arti penting dalam menjaga stabilitas ekosistem pesisir.
“Pertamina telah banyak menanam mangrove, tidak hanya di Indramayu tapi di seluruh daerah di Indonesia. Setiap hektar mangrove yang kita tanam dan pelihara adalah investasi nyata bagi stabilitas iklim bumi dan kesejahteraan generasi masa depan,” tegasnya.
Selain itu, hadir Senior Officer HSSE Project Balongan, Feri Haldino AMD, S.ST., yang memberikan pemahaman mengenai pentingnya penerapan HSSE (Health, Safety, Security and Environment) dalam setiap aktivitas Pertamina.
Aspek keselamatan, kesehatan kerja, keamanan, dan lingkungan menjadi bagian penting agar setiap pekerjaan dapat dilaksanakan secara aman sekaligus memberikan perlindungan terhadap pekerja dan lingkungan.
Melalui kegiatan Goes to Campus tersebut, Project R dan P Balongan berharap mahasiswa sebagai agent of change tidak hanya tertarik mengembangkan karier dan keprofesian di sektor energi, tetapi juga memiliki kepedulian kuat terhadap keberlanjutan lingkungan.
Sebab, masa depan energi bukan sekadar tentang bagaimana menghasilkan dan memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga tentang bagaimana memastikan pembangunan hari ini tidak mengorbankan lingkungan dan generasi yang akan datang.
(Gedo)












