INDRAMAYU,SMI-Kilang Pertamina Balongan kembali menegaskan peran strategisnya, tidak hanya sebagai penyokong energi nasional, tetapi juga sebagai motor penggerak hilirisasi industri migas di Indonesia. Melalui integrasi teknologi canggih, kilang ini mampu mengolah residu minyak menjadi produk petrokimia bernilai tinggi yang menjadi bahan baku industri plastik dalam negeri.
Keunggulan hilirisasi di Balongan bertumpu pada sinergi dua unit utama, yakni RCC (Residue Catalytic Cracking) dan POC (Propylene Olefin Complex). Unit RCC mengolah residu minyak berat menjadi produk antara, yang kemudian diproses lebih lanjut di unit POC untuk menghasilkan propylene.
Produk propylene tersebut selanjutnya disalurkan melalui jaringan pipa ke PT Polytama Propindo untuk diolah menjadi biji plastik (polypropylene), yang digunakan dalam berbagai kebutuhan industri, mulai dari sektor medis hingga kemasan pangan.
Hal tersebut disampaikan General Manager Kilang Pertamina Balongan, Yulianto Triwibowo dalam sambutannya pada kegiatan kunjungan kerja dan monitoring BPH Migas di Kilang Balongan, Minggu (25/1).
Yulianto menjelaskan, operasional unit POC menjadi kunci dalam meningkatkan nilai tambah di kilang tersebut. Secara keseluruhan, kilang saat ini beroperasi optimal dengan kapasitas mencapai 150.000 barel per hari dan siap menjaga ketersediaan energi nasional.
“Meski cuaca ekstrem disertai angin yang menantang, operasional unit-unit kunci ini kami pastikan tetap berjalan andal,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho menilai keberadaan Kilang Balongan memperkuat komitmen pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi sekaligus memperkuat industri nasional.
Ia juga mengungkapkan target pemerintah untuk menghentikan impor solar pada semester kedua tahun 2026.
“Apa yang kita lihat di Balongan hari ini memberikan optimisme besar. Dengan hilirisasi yang matang, kita tidak hanya swasembada BBM, tapi juga memperkuat struktur industri nasional,” tegasnya.
Senada, Tenaga Ahli Menteri ESDM bidang Pengawasan dan Monitoring Infrastruktur Migas, Anggawira menyebut bahwa praktik hilirisasi ini merupakan bagian dari visi besar pemerintahan Prabowo Subianto dalam memperkuat kemandirian bangsa.
“Pertamina adalah wajah Indonesia. Ketahanan energi dan hilirisasi menjadi prioritas utama, dan Kilang Balongan membuktikan kemampuan anak bangsa dalam menguasai teknologi pengolahan migas dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Optimasi Feedstock dan Produk PT Kilang Pertamina Internasional, Erwin Suryadi menambahkan bahwa fleksibilitas pengolahan minyak mentah menjadi salah satu keunggulan kompetitif Kilang Balongan dalam menghadapi berbagai tantangan teknis.
Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan dengan site visit untuk melihat langsung unit-unit pengolahan di kilang tersebut.
Pjs. Area Manager Communication, Relation & CSR Kilang Balongan, Rizky Anggia Putri menyampaikan dukungan terhadap fungsi pengawasan yang dilakukan BPH Migas.
“Sinergi antara regulator dan operator memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa stok BBM nasional dalam kondisi aman dan distribusi tetap terjaga di segala situasi,” tutupnya.
Dengan berbagai inovasi dan penguatan hilirisasi, Kilang Pertamina Balongan terus menunjukkan perannya sebagai pilar penting dalam menjaga ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan industri nasional.
(Imam)












