Surabaya,SMI.id- 3 April 2026 — Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan inisiatif kolaboratif berbasis budaya melalui rencana produksi film Aing Kabayan, yang digagas dalam pertemuan komunitas seni dan budaya di Bandung.
Pertemuan tersebut melibatkan 17 pelaku seni, budayawan, serta perwakilan komunitas kreatif.

Diskusi yang berlangsung berkembang menjadi forum strategis untuk merumuskan konsep produksi film berbasis budaya yang mengedepankan nilai lokal dan partisipasi komunitas.
Film Aing Kabayan diproduksi oleh Chandra Gautama Film, dengan sutradara Chandra Gautama yang menegaskan bahwa proyek ini tidak semata-mata berorientasi pada hiburan, melainkan juga sebagai media edukasi budaya.
“Tokoh Kabayan memiliki nilai-nilai budaya serta kritik sosial yang tetap relevan hingga saat ini. Melalui film ini, kami ingin membangun jembatan antara budaya tradisional dan generasi modern melalui pendekatan sinematik yang kuat,” ujar Chandra Gautama.
Selain pengembangan film Aing Kabayan, dalam forum tersebut juga dibahas proyek film semi-dokumenter musikal bertajuk The Best of Koes Plus.
Film ini dirancang sebagai bentuk apresiasi terhadap perjalanan dan kontribusi Koes Plus sebagai salah satu ikon musik Indonesia yang telah dikenal hingga tingkat internasional.
Sebagai tindak lanjut, pertemuan lanjutan dijadwalkan pada 25 April 2026, dengan melibatkan komunitas penggemar Koes Plus.
Dalam agenda tersebut, juga direncanakan kemungkinan kehadiran pihak keluarga guna memperdalam substansi cerita dan pendekatan artistik dalam proses produksi film.

Proyek ini menjadi representasi nyata kolaborasi lintas generasi dalam industri kreatif. Inisiatif ini menunjukkan bahwa produksi film berkualitas tidak selalu harus bergantung pada rumah produksi besar, melainkan dapat tumbuh dari kekuatan komunitas yang memiliki visi budaya, kreativitas, serta semangat kolaborasi yang tinggi.
Dengan pendekatan tersebut, Aing Kabayan diharapkan mampu menjadi karya sinema yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi.
Penulis,Jurnalis ,Tana.ST












